Uncategorized

Tapak Jejak Musik Seorang Iwan Fals

Iwan Fals sensitif, baik dan mudah tersentuh oleh potret kehidupan yang mengelilinginya. Iwan Fals menulis puisi dengan hati yang dalam. Kebenaran ada di hati dan memasuki ruang terdalam, jadi dengarkan suara yang jelas. Hati nurani lebih jujur ​​dan bebas mengekspresikan diri.

Bagi Iwan Fals, menulis puisi adalah rutin. Seperti seorang petani sejak subuh, dia bangkit, mengambil cangkul, langsung ke ladang dan cangkul. Saya tidak pernah memikirkan cangkul mana dan saya tidak pernah berpikir tentang tumbuh atau bahkan diserang oleh parasit. Demikian juga, Iwan Fals dalam menulis puisi tidak harus menunggu mood. Apa yang Iwan Fals lakukan adalah mengambil gitar, memainkan gitar, bernyanyi dan siapa yang tahu seperti apa jadinya nanti.

Selama Orde Baru, ada beberapa program konser Iwan Fals yang dilarang dan dibatalkan oleh pasukan keamanan karena lirik lagu-lagunya sangat kritis, demonstratif dan membangkitkan perlawanan yang kuat. Ketika Sofyan Ali memprakarsai rencana wisata 100 kota di seluruh Indonesia, ia dihalangi oleh pembatalan izin oleh polisi secara tiba-tiba. Bahkan jika semua peralatan, staf, semua persiapan untuk konser sudah siap dan sudah ada di venue konser Palembang.

Akhirnya, seluruh rangkaian 100 tur kota dibatalkan. Selama perjalanan ke panggung musik yang meminggirkan Iwan Fals, ada cahaya yang kuat ketika Iwan Fals menemukan ruang ekspresif dalam seni di Lokakarya Teater WS Rendra. Di sini sebuah media diciptakan untuk transformasi pemikiran budaya untuk menambah intuisi dan pekerjaan, sehingga Swami terbentuk.

Iwan Fals bertemu dengan Naniel, Sawung Djabo, Inisisri, Toto Tewel, Jerry, Tates dan Cok Rampal, sehingga Swami lahir yang namanya diambil dari status staf sebagai suami dari istri mereka masing-masing. Ketika ia bergabung dengan Swami, nama Iwan Fals menjadi lebih terkenal, menandai hit fenomenal, Bento dan Bongkar.

Perjalanan musik Iwan Fals berlanjut ketika Takata Cantata pada tahun 1990 merilis album. Cantata Takwa, adalah proses interaksi individu yang ditandai oleh WS.Rendra (penulis puisi / penulis lirik), Setiawan Djody (fasilitator), Jocky Suryo Prayogo (arranger / keyboard), Donny Fatah (bassis), Inisisri (drummer / perkusi) dan Sawung Djabo – Iwan Fals (penulis lagu / penyanyi).

Mengamati perjalanan musik dan karya-karya Iwan Fals sangat menarik untuk dipelajari dan didiskusikan. Iwan Fals telah mengalami metamorfosis, puisi yang sudah ada sejak awal kelahirannya hingga sekarang sangat sarat dengan warna kehidupan.

Dapat dikatakan bahwa Iwan Fals tidak hanya kritis, tetapi juga humanis, patriotik, lucu, romantis, filosofis dan bahkan religius, sehingga warnanya berbeda tetapi masih mencirikan Iwan Fals yang kita kenal sekarang.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*